
TLDR
Terminologi adalah ilmu yang mengkaji sekumpulan istilah dalam suatu bidang beserta cara penggunaannya. Menurut KBBI Kemdikbud, kata ini punya dua arti: peristilahan tentang kata-kata, dan ilmu mengenai batasan atau definisi istilah. Terminologi ditemukan di hampir semua bidang, mulai dari kedokteran, hukum, teknologi, hingga keuangan, dan berfungsi memastikan semua pihak dalam suatu profesi berbicara dengan pemahaman yang sama.
Pernahkah Anda membaca dokumen medis dan menemukan kata seperti “hipertensi” atau “kardiovaskular”, lalu bertanya-tanya apakah kata itu punya arti yang berbeda dari yang Anda bayangkan? Situasi itulah yang coba diatasi oleh terminologi. Bukan sekadar daftar kata asing, terminologi adalah sistem yang menjaga komunikasi tetap akurat, terutama di bidang yang tidak boleh ada ruang untuk salah paham.
Pengertian Terminologi
Terminologi berasal dari bahasa Latin terminus yang berarti batas atau batasan, dan -logia yang berarti ilmu atau kajian. Secara harfiah, terminologi adalah ilmu tentang batasan makna suatu istilah.
Dalam praktiknya, terminologi mencakup dua hal sekaligus: kumpulan istilah yang digunakan dalam suatu bidang, dan ilmu yang mempelajari bagaimana istilah-istilah itu terbentuk, digunakan, dan dikembangkan. Karena itu, ketika seseorang menyebut “terminologi medis”, yang dimaksud adalah semua istilah teknis yang berlaku di dunia kedokteran beserta aturan penggunaannya.
Terminologi berbeda dari leksikografi. Wikipedia menjelaskan bahwa leksikografi mempelajari kata dan maknanya secara umum, sementara terminologi fokus pada konsep dan sistem konseptual dalam domain tertentu. Sederhananya: kamus adalah produk leksikografi, sedangkan glosarium atau daftar istilah teknis suatu profesi adalah produk terminologi.
Perbedaan Terminologi dan Istilah Biasa
Tidak semua kata yang terasa “teknis” otomatis masuk dalam terminologi suatu bidang. Ada perbedaan penting antara istilah yang sudah dibakukan dalam suatu profesi dan kata yang hanya kebetulan terdengar asing.
Terminologi yang baik punya ciri-ciri berikut:
- Maknanya spesifik dan tidak ambigu dalam konteks bidang tersebut.
- Digunakan secara konsisten oleh para praktisi di bidang yang sama.
- Sering kali sudah melalui proses standarisasi, baik oleh lembaga bahasa maupun organisasi profesi.
Kata “stres”, misalnya, punya makna yang berbeda antara percakapan sehari-hari dengan makna yang digunakan dalam psikologi klinis atau teknik material. Di sanalah terminologi berperan: memberi batas yang jelas agar satu kata tidak punya sepuluh arti tergantung siapa yang membacanya.
Jenis-Jenis Terminologi
Terminologi bisa dibagi menjadi dua jenis utama berdasarkan cakupan penggunaannya.
Terminologi Umum
Terminologi umum adalah istilah yang awalnya lahir dari bidang tertentu, tetapi lama-kelamaan diserap dan dipahami oleh masyarakat luas tanpa memerlukan pengetahuan khusus. Kata “laptop”, “buku”, “komputer”, dan “keyboard” adalah contohnya. Istilah-istilah ini pernah menjadi jargon teknis di bidang teknologi, tetapi kini sudah menjadi kosakata sehari-hari.
Proses ini wajar dan memang terjadi di semua bahasa. Seiring perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, istilah teknis yang awalnya hanya dikenal kalangan terbatas bisa meluas ke masyarakat umum karena semakin sering digunakan dan didengar. Kata “gawai” dan “antarmuka” adalah contoh lokal yang tengah dalam proses yang sama.
Terminologi Khusus
Terminologi khusus adalah istilah yang maknanya terbatas pada bidang ilmu tertentu dan tidak familiar bagi orang di luar bidang tersebut. Contohnya: “kardiovaskular” dan “fraktur” di bidang kedokteran, “liabilitas” dan “ekuitas” di bidang keuangan, atau “gugatan” dan “tergugat” di bidang hukum.
Istilah-istilah ini sengaja dijaga agar tetap spesifik karena dalam profesinya, ketepatan makna bisa menentukan hasil yang sangat berbeda. Di bidang farmasi, misalnya, memahami terminologi yang tepat adalah bagian penting dari keselamatan pasien. Kerangka kerja seperti SIPAFI Tideng Pale menunjukkan bagaimana standarisasi informasi, termasuk terminologi, menjadi fondasi sistem yang bisa dipercaya.
Manfaat Terminologi dalam Komunikasi
Terminologi bukan hanya soal kerapian bahasa. Ada dampak praktis yang nyata ketika terminologi diabaikan atau digunakan sembarangan.
Mengurangi miskomunikasi. Ketika semua pihak dalam suatu bidang sepakat menggunakan istilah yang sama dengan makna yang sama, risiko salah paham berkurang drastis. Ini paling kritis di bidang seperti kedokteran, hukum, dan rekayasa, di mana satu kata yang salah dipahami bisa berdampak serius.
Mempercepat komunikasi antar profesional. Dokter tidak perlu menjelaskan panjang lebar apa yang dimaksud infark miokard kepada rekan sejawatnya karena keduanya sudah punya pemahaman yang sama atas istilah tersebut. Terminologi yang terstandardisasi memangkas waktu yang terbuang untuk klarifikasi.
Mendukung riset dan dokumentasi. Ketika terminologi konsisten digunakan dalam literatur ilmiah, para peneliti dari berbagai latar belakang dan bahasa bisa saling memahami temuan masing-masing. Ini yang membuat kolaborasi lintas negara dalam sains bisa berjalan.
Membantu pelajar dan pemula. Memahami terminologi suatu bidang adalah gerbang masuk untuk belajar lebih dalam. Seseorang yang baru belajar tentang keuangan, misalnya, perlu memahami dulu apa itu “aset”, “liabilitas”, dan “ekuitas” sebelum bisa membaca laporan keuangan dengan benar.
Contoh Terminologi di Berbagai Bidang
Setiap profesi dan disiplin ilmu punya terminologinya sendiri. Dari yang paling sering ditemui:
Kedokteran: Hipertensi (tekanan darah tinggi), fraktur (patah tulang), transfusi (pemindahan darah), kardiovaskular (berkaitan dengan jantung dan pembuluh darah).
Hukum: Tergugat (pihak yang digugat), plaintiff (penggugat dalam sistem hukum asing), putusan (keputusan pengadilan), eksekusi (pelaksanaan putusan).
Keuangan: Likuiditas (kemudahan mengubah aset menjadi uang tunai), diversifikasi (menyebar risiko investasi), ekuitas (nilai kepemilikan setelah dikurangi utang).
Teknologi: Digitalisasi, antarmuka, basis data, enkripsi. Bidang ini adalah salah satu yang paling cepat menghasilkan terminologi baru. Untuk memahami bagaimana istilah-istilah baru dalam teknologi terbentuk dan diadopsi, artikel tentang digitalisasi bisa memberi gambaran yang baik tentang bagaimana satu konsep besar melahirkan ekosistem istilah tersendiri.
Bagaimana Terminologi Terbentuk dalam Bahasa Indonesia?
Terminologi dalam bahasa Indonesia tidak selalu diterjemahkan dari bahasa asing. Menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud, ada tiga sumber utama pembentukan istilah dalam bahasa Indonesia: kosakata bahasa Indonesia sendiri (termasuk serapannya), bahasa serumpun seperti Melayu, dan kosakata bahasa asing, terutama Inggris dan Belanda.
Prosesnya bisa berupa pemadanan langsung, misalnya camera menjadi “kamera”. Bisa juga gabungan antara terjemahan dan penyerapan. Tidak semua istilah asing diterjemahkan, terutama jika terjemahannya justru mempersulit pemahaman. Istilah seperti software, hardware, atau online dipertahankan dalam bentuk aslinya karena sudah lebih dipahami oleh pengguna.
Kesimpulan
Terminologi adalah lebih dari sekadar kata-kata teknis yang sulit dipahami orang awam. Ini adalah sistem yang menjaga akurasi komunikasi dalam suatu bidang dan memungkinkan ilmu pengetahuan berkembang tanpa terus-menerus terhenti untuk klarifikasi makna.
Memahami terminologi suatu bidang adalah langkah pertama untuk bisa memahami bidang itu sendiri. Jika Anda sering menemukan istilah yang tidak familiar dalam pekerjaan atau studi, menelusuri arti dan batasannya bukan sekadar latihan kosakata. Itu adalah cara paling efisien untuk benar-benar masuk ke dalam cara berpikir suatu disiplin ilmu.
